Diantarapahit-manisnya isi dunia. Berikan degup jantungmu. Otot-otot dan derap langkahmu. Biar kuterjang pintu-pintu terkunci itu. Atau mendobraknya atas namamu. Terlalu pengap udara yang tak bertiup. Dari rahimmu,kemerdekaan. Jantungku hampir tumpas. Karena racunnya. Bagian awal cerpen "Harga Seorang Ayah" karya Ahmadun Yosi Herfanda, Majalah Keluarga, edisi Mei 1982). Salah satu pendekatan yang sangat membedakan antara puisi dan prosa, menurut Subagio Sastrowardoyo, adalah bahwa puisi mengintisarikan pengalaman, pikiran dan perasaan penulisnya — ke dalam baris-baris kalimat yang pendek, ringkas, dan AhmadunYosi Herfanda dikelompokkan sebagai Sastrawan Angkatan 1980 - 1990 an. Sastrawan ini lahir di Kaliwungu, Kendal, 17 Januari 1958, Provinsi Jawa Tengah. Riwayat pendidikan yang berhasil dicatat adalah sebagai alumnus FPBS IKIP Yogyakarta, S-1 pada Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FPBS IKIP Yogyakarta (1986) d Vay Tiền Nhanh Chỉ Cáș§n Cmnd. Kumpulan Puisi Ahmadun Yosi Herfanda - Assalamu’alaikum
 Selamat berjumpa lagi dengan blog aku. Pada postingan kali ini aku akan berbagi tentang puisi-puisi dari Ahmadun Yosi Herfanda. Langsung saja discroll ke bawah ya
. Ahmadun Yosi Herfanda lahir di Kaliwungu, Kendal, 17 Januari 1958. Alumnus FPBS IKIP Yogyakarta ini menyelesaikan S-2 jurusan Magister Teknologi Informasi pada Universitas Paramadina Mulia, Jakarta. Ia pernah menjadi Ketua III Himpunan Sarjana Kesastraan Indonesia HISKI, 1993-1995, dan ketua Presidium Komunitas Sastra Indonesia KSI, 1999-2002. Tahun 2003, bersama Hudan Hidayat dan Maman S. Mahayana, mendirikan Creative Writing Institute CWI. Ahmadun juga pernah menjadi anggota Dewan Penasihat dan kini anggota Mejelis Penulis Forum Lingkar Pena FLP. Tahun 2007 terpilihmenjadi ketua umum Komunitas Cerpenis Indonesia periode 2007-2010, tahun 2008 terpilih sebagai presiden ketua umum Komunitas Sastra Indonesia KSI, sejak 1993 sampai 2009 menjadi redaktur sastra Republika, dan tahun 2010 menjadi ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta DKJ. Sejak 2007 ia juga menjadi “tutor tamu” untuk apresiasi dan pengajaran sastra Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional Depdiknas RI, dan sejak 2009 menjadi direktur Jakarta Publishing House, serta mengajar sastra dan jurnalistik di sejumlah perguruan tinggi. Selain itu, ia juga sering menjadi ketua dan anggota dewan juri berbagai sayembara penulisan dan baca puisi tingkat nasional. Selain menulis puisi, Ahmadun banyak menulis cerpen dan esei, serta buku biografi tokoh, buku wisata, dan company profile. Karya-karyanya dipublikasikan di berbagai media sastra dan antologi puisi yang terbit di dalam dan luar negeri. Antara lain, Horison, Ulumul Qur’an, Kompas, Media Indonesia, Republika, Bahana Brunei, antaologi puisi Secreets Need Words Harry Aveling, ed, Ohio University, USA, 2001, Waves of WonderHeather Leah Huddleston, ed, The International Library of Poetry, Maryland, USA, 2002, jurnal Indonesia and The Malay World London, Ingris, November 1998, The Poets’ Chant The Literary Section, Committee of The Istiqlal Festival II, Jakarta, 1995. Beberapa kali sajak-sajak Ahmadun dibahas dalam Sajak-Sajak Bulan Ini Radio Suara Jerman Deutsche Welle. Cerpennya, Sebutir Kepala dan Seekor Kucing memenangkan salah satu penghargaan dalam Sayembara Cerpen Kincir Emas 1988 Radio Nederland Belanda dan dibukukan dalamParadoks Kilas Balik Radio Nederland, 1989. Tahun 1997 ia meraih penghargaan tertinggi dalam Peraduan Puisi Islam MABIMS forum informal Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia dan Singapura. Tahun 2008 meraih Penghargaan Sastra dari Pusat Bahasa Depdiknas atas buku kumpulan sajaknya yang berjudul Ciuman Pertama untuk Tuhan Logung Pustaka, 2004. Sebagai sastrawan dan jurnalis, Ahmadun sering diundang untuk menjadi pembicara dan membaca puisi dalam berbagai seminar serta even sastra nasional maupun internasional. Tahun 1998 ia diundang untuk membacakan sajak-sajaknya dalam Festival Kesenian Perak di Ipoh, Malaysia. Tahun 1997 ia menjadi pembicara dalam Pertemuan Sastrawan Nusantara PSN IX Padang. Tahun 1999 ia mengikuti PSN X di Johor Baharu, Malaysia, dan menjadi pembicara pada Pertemuan Sastrawan Muda Nusantara Pra-PSN di Malaka. Tahun 2002 ia menjadi pembicara dan membacakan sajak-sajaknya dalam festival kesenian Islam di Universitas Al Azhar, Cairo, Mesir. Kemudian, pada Agustus 2003 Ahmadun diundang untuk membacakan sajak-sajaknya dalam simposium penyair The International Society of Poets di New York, AS. September 2004 menjadi pembicara dalam PSN XIII di Surabaya. Mei 2007 menjadi pembicara dalam Pesta Penyair Indonesia 2007, Sempena The 1st Medan International PoetryGathering, Taman Budaya Sumatera Utara, Medan. Oktober 2005 dan Oktober 2007 menjadi pembicara dan Kongres Cerpen Indonesia KCI IV di Pekanbaru, dan KCI V di Banjarmasin. Januari 2008 menjadi pembicara dan ketua sidang pada Kongres Komunitas Sastra Indonesia KSI di Kudus. November 2009 menjadi pembicara dan membacakan sajak dalam Pertemuan Penyair Nusantara PPN III di Kualalumpur, Malaysia. Buku-buku Ahmadun yang telah terbit adalah Sang Matahari puisi, Nusa Indah, Ende, 1984, Sajak Penari puisi, Masyarakat Poetika Indonesia, Yogyakarta, 1991, Fragmen-Fragmen Kekalahan puisi, Penerbit Angkasa, Bandung, 1996, Sembahyang Rumputan puisi, Yayasan Bentang Budaya, Yogyakarta, 1996, Sebelum Tertawa Dilarang cerpen, Balai Pustaka, Jakarta, 1997, Ciuman Pertama Untuk Tuhan puisi dwi-bahasa, Logung Pustaka, 2004, Sebutir Kepala dan Seekor Kucing cerpen, Being Publishing, 2004, Badai Laut Biru cerpen, Senayan Abadi Publishing, Jakarta, 2004, dan The Worshipping Grass puisi dwi bahasa, Bening Publishing, Jakarta, 2005. Buku-buku terbaru Ahmadun yang sedang dalam proses terbit, antara lain Resonansi Indonesia kumpulan puisi, Metafor Cinta, Dialektika Antara Sastra, Alquran dan Tasawuf esei panjang, Kolusi kumpulan cerpen, Koridor yang Terbelah kumpulan esei, dan Musang Berbulu Agama kumpulan sajak. Kini tinggal di Vila Pamulang Mas Blok L-3 No. 9, Phone/Fax +62-21-7444765, Pamulang, Tangerang Selatan 15415, Indonesia. Email Mobile 081315382096.* FRAGMEN TAK BERNAMA seperti semula, kaunyanyikan lagu purba menyatu dalam tarian pohon-pohon akasia ketika adam meninggalkan tanah asalnya mencari hawa di belantara luka dalam kicau burung dan risik serangga angin bersetubuh dengan musimnya tiap senja tiba daun pun rontok mawar mekar merah senyumnya ketika layu kau tak menjamahnya kaubiarkan burung meninggalkan kicaunya kaubiarkan kupu meninggalkan kepompongnya semesta berproses dalam genggaman kodrat kehidupan kauciptakan lantas kauremas pelan-pelan, mengucur darah kefanaan 1980 TAHAJUD SUNYI kuketuk pintumu. biarkan jemari kasihku mengusap gerai rambutmu. kau pun membuka tabir jiwaku, hingga hatiku bisa leluasa mengeja alif ba ta cintamu kata-kata mesra pun bermekaran lewat pintu jiwa kupetik bagai bunga hadiah untuk kekasihku kelak di sorga malam ini aku pasrah dalam renta entah esok atau lusa jika kealpaanku tak lagi kausapa tenggelamkan diriku yang sarat luka ke lautan cintamu yang tak terukur dalamnya - kan kubasuh segenap nikmat kesesatan! 1980 CATATAN DI POJOK TAMAN - kepada pahlawan tak dikenal kini kau berlayar sendirian di lautan kelam tanpa karang menuju pelabuhan seberang untuk tidur di pangkuan tuhan sebutir peluru telah merenggut jantungmu ketika kau nekat melindungiku dalam penyerbuan ke benteng itu di pangkuanku kautinggalkan jasadmu sebelum sempat kausebut namamu asal dan induk pasukanmu kecuali seberkas senyum keikhlasan lukamu kini tak dapat kuraba lagi karena dagingmu telah kembali ke asal tinggal cahaya putih cintamu membekas dalam di kalbu 1980 MEMORIAM PEZIARAHAN - pemakaman kaliwungu salam padamu, bapak-simbok, kakek-nenek buyut-biyungku. telah lama kalian tidur tanpa degup dan gairah hati. sendiri doa bagimu tanpa bunga tujuh warna bakti bagimu tanpa kepulan asap dupa ziarahku dalam sederhana sebelum diziarahi anak cucu pohon semboja kutanam tumbuh subur penuh bunga ialah saksi waktu dan usia yang menipis di mulut batara kala ialah pertanda kesuburan cinta tertanam abadi di hati kita takzim padamu, penghuni misteri penunggu akhir tanpa mimpi 1981 PERSINGGAHAN - pantai samas laut hanya bersajak. cinta mengendap dalam tubuh tegak beku memandang dingin matamu tak kautangkap gairah pagi mentari menghidupkan percik ombak di pasir, kini-esok tanpa akhir di sinilah kehidupan bermula dan berakhir perahu nelayan melaut berlabuh kembali di pelukan terabadi dan kita, petualang, tergenggam keangkuhan batu karang mengunyah duka. diam dalam ayunan gelombang tak kau pedulikan tingkah angin pagi. mengayun mimpi telah kita ukir kenangan kepedihan tak terelakkan 1982 SAJAK ALIF kautulis kearifan pada alif huruf pertama panggilanmu gerbang terdepan ke taman hatiku ketika sunan kalijaga menggembala umatnya alif pun menjadi tongkatnya pada tongkat isa tertulis cinta-kasihmu pada tongkat musa terukir keajaibanmu ketika tongkat mengetuk batu mata air pun terpancar darah abadi bagi kehidupan kautulis kemuliaan pada alif huruf terdepan panggilanmu kauturunkan alif dari arasy ke bumi debu pun menjelma kemuliaan sejati alif terbentang di hati orang pilihan jalan lurus menuju haribaanmu 1987 OBSESI FUTURISTA manusia masa depan berdiri tegak di layar komputerku. di tangan kanannya jaringan internet di tangan kirinya hutan lebat menghijau rambutnya mengkilat tanpa shampo giginya kristal-kristal cahaya, mata kanannya radar, kirinya antena parabola, otaknya einstein hatinya sunan kalijaga. ia simpan kitab kuning dalam disket, filsafat di saku baju sejarah ia lipat dalam sepatu manusia masa depan mencipta badai dengan tuts piano, mencipta gelombang dalam lagu sangsai mencipta hutan di kota-kota beton dan baja, ombak laut ia tampung dalam katub jantungku. manusia masa depan tak takut kehilangan kursi dalam syairmu manusia masa depan membangun sejarahnya sendiri yang merdeka dari rencanamu hari ini 1989 SAJAK ORANG MABUK karena hidup penuh keterbatasan kupilih api cinta abadi membara dalam dadamu allah, sambutlah hatiku yang terbakar api itu karena hidup penuh keterikatan kupilih kebebasan dalam apimu bakarlah seluruh diriku o, allah kuingin debu jiwaku mengalir abadi dalam darahmu bertahun-tahun aku mabuk bermalam-malam aku tenggelam dalam gelombang kerinduan luluh dalam apimu 1991 SAJAK ZIARAH dengan zikir kuziarahi siti jenarku yang berpusara di bilik kalbu dengan cinta kuziarahi adam-hawaku yang bertenda di pintu mautmu sepanjang waktu aku berziarah padamu daun-daun gugur yang mendahului hari tamatku sepanjang langkah aku berziarah sepanjang sujud kusebut maut sepanjang cinta kutabur bunga sepanjang orgasme kusebut kematiannya sepanjang hidup kau berziarah-ziarah sepanjang mati hidup kauziarahi siapa tak kenal ziarah takkan kenal makna rumah dengan ilmu kuziarahi nabi hidirku yang berpusara di sungai jiwa dengan kata kubongkar rahasia alima yang terkunci di bilik sukma dengan sajak aku pun berdoa membuka tangan al-malik yang menggenggam jagat raya 1992 NYANYIAN KOTA PERADABAN - jakarta di kota peradaban orang-orang mencari tuhan di bar-bar dan bursa-bursa perempuan, bank-bank dan perkantoran. politikus pun mengaum di mana tuhan di mana? birokrat menjawab sambil menguap di sini tuhan di sini. ketika orang-orang berdatangan yang teronggok cuma berhala kekuasaan meninggalkan tuhan dalam dirinya, orang-orang makin sibuk mencari tuhan, memanggil-manggil tuhan, di mana kau tuhan? di sini tuhan di sini jawab suara di hotel-hotel dan kelab malam. ketika orang-orang berdatangan, yang terhampar cuma kelamin-kelamin rindu bersebadan di kota peradaban orang-orang mencari tuhan hilir-mudik di jalan-jalan, berebut keluar masuk diskotik dan pasar-pasar swalayan orang-orang lupa, tuhan dalam hati sendiri tak pernah pergi 1992 SEMBAHYANG RUMPUTAN walau kaubungkam suara azan walau kaugusur rumah-rumah tuhan aku rumputan takkan berhenti sembahyang inna shalaati wa nusuki wa mahyaaya wa mamaati lillahi rabbil alamin topan menyapu luas padang tubuhku bergoyang-goyang tapi tetap teguh dalam sembahyang akarku yang mengurat di bumi tak berhenti mengucap shalawat nabi sembahyangku sembahyang rumputan sembahyang penyerahan jiwa dan badan yang rindu berbaring di pangkuan tuhan sembahyangku sembahyang rumputan sembahyang penyerahan habis-habisan walau kautebang aku akan tumbuh sebagai rumput baru walau kaubakar daun-daunku akan bersemi melebihi dulu aku rumputan kekasih tuhan di kota-kota disingkirkan alam memeliharaku subur di hutan aku rumputan tak pernah lupa sembahyang sesungguhnya shalatku dan ibadahku hidupku dan matiku hanyalah bagi allah tuhan sekalian alam pada kambing dan kerbau daun-daun hijau kupersembahkan pada tanah akar kupertahankan agar tak kehilangan asal keberadaan di bumi terendah aku berada tapi zikirku menggema menggetarkan jagat raya la ilaaha illallah muhammadar rasulullah aku rumputan kekasih tuhan seluruh gerakku adalah sembahyang 1992 Sekian dulu postingan kali ini, semoga bisa bermanfaat bagi pembaca yang sedang mencari referensi kumpulan puisi Ahmadun Yosi Herfanda. Wassalamu’alaikum
. Puisi Nyanyian Kemerdekaan Karya Ahmadun Yosi Herfanda Nyanyian Kemerdekaan Hanya kau yang kupilih, kemerdekaan Di antara pahit-manisnya isi dunia Akankah kau biarkan aku duduk berduka Memandang saudaraku, bunda pertiwiku Dipasung orang asing itu? Mulutnya yang kelu tak mampu lagi menyebut namamu Berabad-abad aku terlelap Bagai laut kehilangan ombak Atau burung-burung Yang semula Bebas di hutannya Digiring ke sangkar-sangkar Yang terkunci pintu-pintunya Tak lagi bebas mengucapkan kicaunya Berikan suaramu, kemerdekaan Darah dan degup jantungmu Hanya kau yang dipilih Di antara pahit-manisnya isi dunia Orang asing itu berabad-abad Memujamu di negerinya Sementara di negeriku Ia berikan belenggu-belenggu Maka bangkitlah Sutomo Bangkitlah Wahidin Sudirohusodo Bangkitlah Ki Hajar Dewantoro Bangkitlah semua dada yang terluka “Bergenggam tanganlah dengan saudaramu Eratkan genggaman itu atas namaku Kekuatanku akan memancar dari genggaman itu.” Suaramu sayup di udara Membangunkanku dari mimpi siang yang celaka Hanya kau yang kupilih, kemerdekaan Di antara pahit-manisnya isi dunia Berikan degup jantungmu Otot-otot dan derap langkahmu Biar kuterjang pintu-pintu terkunci itu Atau mendobraknya atas namamu Terlalu pengap udara yang tak bertiup Dari rahimmu, kemerdekaan Jantungku hampir tumpas Karena racunnya Hanya kau yang kupilih, kemerdekaan Di antara pahit manisnya isi dunia Matahari yang kita tunggu Akankah bersinar juga Di langit kita? Mei, 1985CatatanPuisi ini juga sering dijumpai dengan judul Nyanyian PuisiBeberapa hal menarik dalam puisi "Nyanyian Kemerdekaan" karya Ahmadun Yosi Herfanda adalah sebagai berikutPengorbanan dan kerinduan akan kemerdekaan Puisi ini menggambarkan pengorbanan yang dibutuhkan untuk mencapai kemerdekaan. Penyair merenungkan pahit-manisnya kehidupan dan menekankan pentingnya kemerdekaan sebagai pilihan utama. Puisi ini menciptakan perasaan kerinduan yang mendalam terhadap kebebasan dan menggambarkan keinginan untuk melihat saudara-saudara dan tanah air yang terbebaskan dari semangat patriotisme Puisi ini memanggil nama-nama pahlawan nasional seperti Sutomo, Wahidin Sudirohusodo, dan Ki Hajar Dewantoro, sebagai simbol semangat dan kekuatan untuk berjuang demi kemerdekaan. Hal ini menggambarkan pentingnya persatuan dan solidaritas dalam mencapai tujuan dan gambaran yang kuat Puisi ini menggunakan metafora dan gambaran yang kuat untuk menggambarkan keadaan penindasan dan penjara yang membatasi kemerdekaan. Gambaran tentang laut kehilangan ombak, burung-burung di sangkar, dan udara yang pengap menciptakan gambaran yang kuat tentang kehilangan dan kepahitan yang dirasakan dalam harapan dan keinginan akan perubahan Puisi ini mengungkapkan harapan akan masa depan yang lebih baik dan keinginan untuk mengatasi rintangan dan pintu-pintu terkunci demi mencapai kemerdekaan. Penyair merenungkan tentang sinar matahari yang mereka tunggu-tunggu, yang dapat menerangi langit mereka dan membawa ini menggambarkan semangat patriotisme, kerinduan akan kemerdekaan, dan harapan akan masa depan yang lebih baik. Penggunaan metafora yang kuat dan gambaran yang mendalam memberikan kekuatan dan keindahan pada puisi ini, sambil mengajak pembaca untuk merenungkan arti penting kemerdekaan dan perjuangan yang diperlukan untuk Nyanyian KemerdekaanKarya Ahmadun Yosi HerfandaBiodata Ahmadun Yosi HerfandaAhmadun Yosi Herfanda kadang ditulis Ahmadun Y. Herfanda atau Ahmadun YH adalah seorang penulis puisi, cerpen, esai, sekaligus berprofesi sebagai jurnalis dan editor berkebangsaan Indonesia yang lahir pada tanggal 17 Januari pernah dimuat di berbagai media-media massa, semisal Horison, Kompas, Media Indonesia, Republika, Bahana, dan Ulumul Qur'an. PERJUMPAAN RINDU Tiap berlayar selalu kuingat saat berlabuh Sebab Cintaku padamu tak pernah angkat sauh Dengan layar perahu kurentang Rindu Namun angin membawaku semakin jauh Walau gemuruh ombak mengaduh Minta dermaga kembali mendekapmu Adakah ombak yang tak rindu pantai Adakah pantai yang tak rindu ombak Adakah dermaga yang tak rindu perahu Adakah perahu yang tak rindu dermaga Ombak telah membuktikan kesetiaan pada pantai Padanya ia selalu melabuhkan kecupan Tiap detik tak lepas dari kasih sayangnya Setiap berlayar selalu kucatat Waktu kembali berlabuh padamu Tunggulah. Rinduku takkan lupa Hangat pelukanmu Tanjungpasir, 2021 DOA UNTUK NEGERIKU Seperti harapan yang engkau tabur Aku pun menebar rasa bersaudara Jika hari kembali terjaga dalam gairah kerja Aku selalu berdoa, untukmu, negeriku Untuk keselamatanmu, untuk kejayaanmu Walau corona masih menghantuimu Dan wabah gelombang ketiga menakutimu Aku ingin engkau tetap tegar dalam langkahmu Kutebarkan kata-kata bijak Mengusap wajah-wajah para pekerja Menepis covid, berlindung selembar harapana Mereka menumpang gerbong-gerbong kereta Dan bus-bus antarkota. Mereka dari desa ke kota Lalu lenyap di balik gedung-gedung berkaca Di tanganmu yang perkasa, mereka Menganyam cita-cita, sehasta demi sehasta Juga untukmu, tanah airku Kini doaku mengental, menjadi sajak Yang dengan senyumnya mengucapkan Selamat malam, selamat menuai mimpi Lalu dengan sayap makna menari-nari di udara Menciumi tiap pipi yang merona oleh sapaannya Esok hari dengan seribu sayap bidadari Sajak itu akan membawa sekuntum bunga Bagi tiap warga negara. Berharap tiap kelopaknya Mekar jadi tawa dalam rasa bersaudara. Jakarta, 2021 SORE DI PANTAI Masih kutemukan sosok itu bermain di pantai Hari itu, Sabtu sore, empat puluh tahun lalu Tubuhku yang dekil, dengan kolor merah tua Mengejarmu melintas pasir yang menyimpan luka Seperti tak ada yang berubah. Ombak masih setia Mengusap bibirmu yang basah, dan para nelayan Dengan perahu-perahu kecil, menganyam masa depan Bersama angin dan rinai hujan. Sesekali kakap Dan cakalang, kadang kue atau tengiri, Berserah diri pada jala dan kail nelayan Di barat kulihat kaki langit yang redup Oleh tumpukan awan, dan di timur kegelapan Mulai menelan sisa-sisa air hujan Pada saat seperti itu, dulu pun aku mulai berkemas Meninggalkan pasir dan ombak, meninggalkan Segala kenangan, tanpa bidikan kamera Hanya sebingkai senyuman bintang Membawaku kembali ke kampung halaman Dalam rasa asam-manis buah mempelam! Kaliwungu, 2020 SUARA TANGIS ITU Kudengar lagi suara tangis itu Tangis anak-anak yang kehilangan ibu Pelarian dari negeri yang dihujani peluru Tapi ini di teluk Jakarta Bukan di Selat Malaka Dan aku sedang mengail ikan Di antara rumpon dan karang Ah, adakah mereka tersesat di sini Dan perahu mereka terbalik Sebelum menyentuh pantai? Tak ada anak-anak di perahu ini Kecuali para pengail yang bersedih hati Mendengar suara tangis itu lagi Mungkin tak jauh dari sini Ada perahu serombongan imigran Yang terombang-ambing tanpa nakoda Dan tak tahu akan berlabuh ke mana Tak ada anak-anak di perahu kami Tapi rintih dan suara tangis mereka Terdengar sampai di sini Jakarta, 2017 SENJA DI ULELE seperti tak tersisa lagi derita itu petaka yang dilukis jari-jari tsunami dan luka yang digoreskan senjata api wajah-wajah kini sumringah lagi melambaikan cinta pada senja jingga langit tersenyum mengecup matahari menyapa tarian burung dan ikan pari akankah kau hadir lagi senja ini kembali menoreh harapan di pasir pantai atau hanya kenangan pahit itu yang terbagi tiga helai rambutmu tersangkut di batu, sesobek kerudung ungu di ujung kakiku, dan jasadmu yang mengapung bersama pecahan dinding perahu seperti tak tersisa lagi petaka itu meski lelehan air mata tentangmu tak terhapus telapak waktu Banda Aceh, Maret 2019 Tentang Penulis AHMADUN YOSI HERFANDA adalah alumnus FPBS Univ. Negeri Yogyakarta UNY – IKIP Yogyakarta. Pernah kuliah di Univ. Paramadina Mulya dan menyelesaikan Magister Komunikasi di Univ. Muhammadiyah Jakarta. Ia lahir di Kaliwungu, 17 Januari 1958. Dikenal sebagai penyair social-religius. Ia adalah salah seorang penggagas dan pencanang forum Pertemuan Penyair Nusantara PPN – forum penyair yang diadakan secara bergilir di Negara-negara Asia Tenggara, dan salah seorang deklarator Hari Puisi Indonesia HPI yang dirayakan secara nasional tiap 26 Maret. Selain puisi, ia juga banyak menulis cerpen dan esei sastra. Sejak 2010, mantan redaktur sastra Harian Republika ini mengajar penulisan kreatif creative writing pada Universitas Multimedia Nusantara UMN Serpong. Ia sering menjadi pembicara dan pembaca puisi dalam berbagai forum sastra nasional dan internasional di dalam dan luar negeri. Ahmadun juga pernah menjadi ketua tetap Jakarta International Literary Festival JILFest, anggota pengarah Pertemuan Penyair Nusantara PPN, anggota dewan penasihat Malay Studies Centre Pattani University Thailand, ketua Lembaga Literasi Indonesia Indonesia Literacy Institute, dan pemimpin redaksi portal sastra Litera . Ia juga pernah menjadi ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta DKJ, 2009-2012, ketua Komunitas Sastra Indonesia KSI, 2007-2012, ketua III Himpunan Sarjana Kesastraan Indonesia HISKI, 1993-1996, ketua Komunitas Cerpen Indonesia KCI, 2007-2012, dan anggota tim ahli Badan Standarisasi Nasional Pendidikan BSNP Kemendikbud RI bidang Sastra 2014-2015. Buku kumpulan sajaknya yang telah terbit, antara lain Sang Matahari Nusa Indah, Ende Flores, 1980, Sajak Penari kumpulan puisi, Masyarakat Poetika Indonesia, 1991, Sembahyang Rumputan Yayasan Bentang Budaya, Yogyakarta, 1996, Fragmen-fragmen Kekalahan Penerbit Angkasa, Bandung, 1996, Ciuman Pertama untuk Tuhan puisi dwi-bahasa, Logung Pustaka, 2004 - meraih Penghargaan Sastra Pusat Bahasa, 2008, Dari Negeri Daun Gugur Pustaka Littera, 2015, dan Ketika Rumputan Bertemu Tuhan Pustaka Littera, 2016 – terpilih sebagai buku unggulan 5 besar dalam Anugerah Hari Puisi Indonesia 2016. Sedangkan buku kumpulan cerpennya yang telah terbit, antara lain Sebelum Tertawa Dilarang Balai Pustaka, Jakarta, 1997, Sebutir Kepala dan Seekor Kucing Bening Publishing, 2004, dan Badai Laut Biru Senayan Abadi Publishing, Jakarta, 2004.***

puisi karya ahmadun yosi herfanda